Negara Tetangga

Gw memang bukan orang yang sering ke luar negeri, bukan karena tidak suka ataupun tidak mau, tapi memang lebih ke arah tidak (baca:belum) mampu. Gw pertama kali ke luar negeri ke negara tetangga Malaysia yaitu acara kuliah kerja (kulker)  bersama temen2 seangkatan kuliah. Itupun melalui acara yang sudah diatur oleh temen2 dari IIUM, jalan2 ke pabrik proton, MSC, TM, petronas, dan beberapa landmark dari Kuala Lumpur. Perjalanan kedua kembali ke Malaysia lagi, kali ini menginap di hotel yang bagus dan kawasan yang lebih “bebas” karena ada training selama 5 hari disana. Dan perjalanan ke luar negeri ketiga masih tetap negara tetangga, yaitu Singapura.

Rasanya malu baru 3 kali keluar negeri itupun hanya di negara2 tetangga tapi sudah “nggaya” nulis blog tentang ini. Dibanding dengan teman2 yang mungkin sudah keliling dunia menginjakkan kaki di beberapa benua rasanya gw ga ada apa2nya.

Perjalanan ke Singapura gw memang bisa dibilang cukup berkesan selain kena masalah di imigrasi, baik di imigrasi Indonesia maupun imigrasi Singapura, gw juga mesti pergi sendirian sejak status gw udah double (suami orang). Ada perasaan seneng karena akan ke tempat baru tapi juga cukup berat karena harus meninggalkan istri gw. Dari 2,5 hari di Singapura acara yang mesti gw datangi cuma berdurasi 2 jam habis itu, gw bebas. Alhasil yang gw lakukan adalah jalan2 sendirian muter2 Singapura dengan berbekal peta MRT dan beberapa check list tujuan yang sudah dibuatin ama istri gw (secara istri gw pernah 6 bulan di Singapura, jadi dia cukup ngerti beberapa tempat menarik).

Perjalanan gw memang tanpa tujuan yang pasti, muter2 di beberapa tempat, jalan2 naek MRT atau bis dengan tujuan yang coba2,toh gw yakin ga bakal nyasar di pulau kecil ini, jalan kaki berkilo2, duduk di taman melihat orang2 sekitar, untunglah gw ada teman yang kerja di sana yang bersedia minjemin gw kartu ez link dan tempat menginap. Thanks to ARINTO temen SMA gw dan NOLANG temen sekelas gw selama setahun pertama di ITB.

Di setiap perjalanan gw keluar negeri selalu memberikan kesan yang cukup mendalam, bukan perasaan kagum yang berlebihan tapi lebih merasa ada kegelisahan yang cukup mendalam. Selama 2 hari berjalan sendirian dan mengamati banyak hal cukup membuat gw berpikir. Dimanjakan trasnsportasi public yang handal, jalanan yang bersih, trotoar yang nyaman, tempat penyebrangan yang tidak berbahaya, papan petunjuk yang mudah dimengerti, taman2 yang asik buat duduk2, sungai yang bersih. Gw yakin suatu saat nanti Jakarta juga bisa kayak gitu,tapi kapan?? Mari kita mulai dari diri kita.

Singapura tidak asing buat orang Indonesia, dan gw yakin juga orang2 yang maen kesana adalah orang2 menengah keatas yang rela ngurus passport, beli tiket pesawat, nyari hotel. Hampir di tempat2 tujuan turis di Singapura isinya orang Indonesia, bahasa lw gw dimana2, satu pesawat gw isinya orang Indonesia, ditambah sejak budget airline semakin melebarkan sayapnya. Tapi di satu sisi gw terkadang prihatin (meminjam kata2 om beye), di saat boarding menunggu keberangkatan pesawat menuju Jakrta beberapa turis Indonesia ini lebih antusias membicarakan jumlah belanjaannya, dan berapa banyak uang yang udah dia habiskan selama di Singapura. Dan tidak tersisa sedikitpun budaya tertib yang mereka ambil dari Negara tetangga ini. Masuk pesawat ga mau antri, menutupi jalan orang di pesawat (sibuk menata barangnya), tetap menyalakan hape di saat pesawaat akan lepas landas, dsb. Yah ternyata memang masi banyak orang2 semacam itu, bahkan untuk level yang gw anggap udah melihat dunia luar. Mungkin orang2 kyk ginilah yang diwakili beberapa anggota DPR yang kunjungan kerja ke luar negeri tanpa isi, dan tanpa bekas sedikitpun. Di satu sisi, banyak TKI yang bekerja di luar negeri menghasilkan devisa bagi Negara, di satu sisi ada orang2 yang menghabiskan devisa Negara ini dengan berbelanja untuk kesenangan pribadi.

Gw memang iri dengan ketertiban di Negara tetangga ini, transportasi public yang nyaman dan mudah, taman2 yang banyak, trotoar yang asik, lalu lintas yang tertib, peraturan  yang jelas (untuk public behavior dan lalu lintas) sehingga tidak ada area abu2 yang bisa dimanfaatkan oleh sebagian oknum. Gw heran, kenapa setiap teknologi dan perkembangan untuk hal2 yang berbau konsumerisme seperti gadget, mall-mall (mall di Indonesia kurang lebih sama kyk di negara2 tetangga),dan sejenisnya sangat mudah diadaptasi dan dikembangkan di Jakarta, sedangkan tranportasi publik yang nyaman, trotoar jalan yang akomodatif, dan taman2 yang hijau kayaknya susah sekali diimplementasikan di Jakarta.

Gw ga ngebahas soal kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers, kebebasan dalam bergaul dengan siapapun, keindahan alam laut pulau pegunungan, kekayaan alam dan mineral, keragaman budaya suku bangsa dan bahasa, dan lain sebagainya yang hampir semuanya dimiliki oleh bangsa Indonesia.  Gw hanya merindukan 3 hal Ketertiban, Supremasi hukum, dan Great Managerial.

Yah gw tau itu tanggung jawab semuanya termasuk gw, bolehlah kita berharap, mengutip kata2 Sudjiwo tejo  “Manusia bisa bertahan seminggu tanpa makan dan minum, tapi manusia tak akan bisa hidup sedetikpun tanpa harapan”

Dan kata2 Andy  Dufresne di film Shawshank Redemption “hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies

July 12, 2011 at 9:08 am 9 comments

Tips “Menikmati” Ibukota

Yaaaah benar,saya memang datang ke Jakarta di usia saya yang ke 23. Setelah hidup di Tuban Jatim dari lahir sampai SMP,,kemudian melanjutkan SMA di Jogja, dan lanjut kuliah di Bandung, akhirnya jodoh dan rejeki saya jatuh di Ibukota.

Jakarta demikian juga dengan kota lainnya,memiliki sisi positif dan negatif. Tulisan ini saya buat sebagai salah satu tips bagi teman2 yang “ndeso” seperti saya, orang yang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan Jakarta. Banyak orang bilang Jakarta bukan lagi tempat yang nyaman, jalanan macet, polusi udara, kendaran bermotor yang rusuh, tidak aman dsb. So far, saya bukan tidak setuju dengan realitas yang ada, tapi saya hanya tidak ingin ketika menikmati hidup ini saya lebih sering mengutuk keadaan. Sejauh ini saya tidak pernah mengeluh serius dengan keadaan, tapi bukan berarti saya tidak kritis dengan banyak hal di Jakarta. Ketertiban warganya dalam berkendara, dalam hal kebersihan, dalam hal memikirkan kepentingan orang lain dan kepentingan umum, public transport, dan banyak hal lagi.

Ini beberapa tips saya dalam menikmati Ibukota:

1. Kemacetan Jalan

Mungkin kita terhanyut dalam sebuah rutinitas kerja dan keseharian, kita sering melewati kemacetan2 jalanan yang membuat stres pikiran kita. Saran saya tidak selamanya jalanan jakarta itu macet, cobalah ke daerah thamrin,sudirman,kuningan di saat wiken di pagi hari. Maka akan terlihat jalanan yang lengang dan sepi, di saat seperti itu saya selalu merasa, “Jakarta bisa sepi juga ya”

2. Mencari oase

Mencari oase yang saya maksud adalah sebuah tempat yang rindang dengan beberapa pohon yang besar yang asik buat nongkrong hanya sekedar membaca koran atau menikmati udara sekitar. Saya sarankan cobalah maen ke taman suropati, ketika mengenal taman ini saya langsung merasa, masi ada tempat seperti ini di Jakarta😀, pohon2 besar, burung merpati, track jogging, komunitas biola, anak2 kecil yang berlari2an, mantaaap,so relaxing

3. Nikmati Fasilitasnya

Jakarta adalah kota yang memiliki fasilitas yang paling lengkap, atm bertebaran dimana2, taksi banyak, tempat makan yang bervariatif, tempat perbelanjaan yang lebih dari cukup, tempat nongkrong yang bikin menarik, bahkan mo mengisi rohani banyak masjid yang mengadakan pengajian rutin. So mari kita nikmati.

4. Manfaatkan Arus Informasinya

Mo ikutan seminar apa aja ada di jakarta, mo ikutan trening apa aja ada di jakarta. Mo nonton konser musik dari yang sekelas dahsyat, inbox, R n B luar negeri, Java Jazz, semuanya ada. Mo datang di pameran pendidikan luar negeri? pameran mobil? Motor? Komputer? ada di Jakarta. So, mari manfaatkan arus informasinya. Tapi saya bukan orang yang suka datang di tempat2 keramaian, kecuali memang ada keperluan yang mendesak.

5. Peluang kerja yang lebih baik

Banyak sekali peluang kerja di jakarta jika kita memang kreatif dan memiliki value tersendiri, banyak kesempatan dari sebagai karyawan sampai wiraswasta.

6. Peningkatan Kualitas Diri

Jakarta adalah kota yang memiliki keragaman dan ketimpangan yang sangat besar, di satu sisi orag terkaya ada disini dan bisa jadi juga orang termiskin ada juga disini. Sekali lagi itulah yang membuat jakarta beragam. Di satu sisi kita tidak bisa tinggal diam setuju terhadap kemiskinan, baik itu kemiskinan harta maupun kemiskinan moral, martabat dan tanggung jawab. Mengapa saya berkata demikian, karena bisa jadi kemiskinan tidak hanya dilihat dari harta saja, bisa juga dari sebuah attitude. Di jakarta saya menemukan sebuah formula, dimana disinilah kita menjadi sangat bersyukur sekaligus terpacu untuk menjadi lebih dan lebih lagi. Kita dituntut untuk bisa memikirkan orang lain, sekaligus dipaksa untuk masa bodoh. Mungkin “seimbang” adalah kata yang tepat, dan seimbang bukan lah hal yang mudah, kita dituntut untuk terus melakukan evaluasi diri, sejauh apa tingkat keseimbangan kita, tingkat keseimbangan dalam bersyukur dan berjuang untuk lebih. Mungkin bisa jadi dimanapun kita dituntut untuk seperti ini, tapi percayalah, di Jakarta saya merasa dituntut untuk lebih mengevaluasi diri.

Dimanapun kita berada, di Bumi Allah ini, marilah kita tetap menjadi seorang khalifah, bermental seorang khalifah, yang mengayomi dan menjaga bumi dan seisinya.Amiin

 

Jakarta 20 Juni 2011

(diambil dari google)

-anas-

June 20, 2011 at 6:35 am 4 comments

Just Married 1

Yuuup,, gw  baru aja nikah, tepatnya  tanggal 13 feb 2011, sebulan yang lalu. Di beberapa tulisan gw sekitar 2 tahun lalu gw sering ngomongin nikah, entah pola pikir gw tentang nikah, tentang gimana dan apa aja yang mesti disiapin dalam rangka menuju nikah, dsb. Dan sekarang Alhamdulillah masa persiapan nikah sudah terlewati dan sekarang adalah masa2 membangun pernikahan itu sendiri.

Untuk membaca tulisan2 saya tentang nikah sebelumnya bisa dilihat di link berikut:

1. Ngomongin Nikah

2. Masi soal Nikah

3. Marry the right person

Talk about my wife

Wiwien Apriliani, biasa dipanggil wiwien, lahir di Jogja 10 April 1987. Gw kenal dia dari jaman SMA, sekitar 8 tahun yang lalu. Kalo gw ditanya,berarti udah ada flirting2 dari jaman SMA niy?? Hehehhe… dengan malu2 bakal gw jawab keknya ga😀. Gw baru kenal lagi akhir Mei 2010. Yah begitulah cinta kita ga pernah tau kapan dia menyapa (ciee bahasa gw). Tapi gw bersyukur bisa ketemu  dia disaat yang sangat tepat, saat gw udah siap untuk menjadi kepala keluarga, dan dia juga mungkin sudah siap menjadi seorang istri. Dan balik lagi,, yah begitulah jodoh, tidak pernah ada yang tahu bagaimana semua itu berawal.

Masa-masa kuliah emang masa yang paling asik buat nongkrong, maen2 ama temen, nge lab, rapat2 kegiatan kemahasiswaan dsb. Dan mungkin itu juga yang menyebabkan gw dan sebagian temen ga begitu mikirin soal cewek, selain gw juga keknya bukan orang yang bisa pacaran, ditambah lingkungan yang sangat mendukung untuk ga mikirin cewek, kloop dah. Jomblo selama kuliah.

Balik lagi ngomongin cewek gw,,jangan bilang2  ya kalo gw omongin,,ntar dia kegeeran,,sumpeh dah males banget kalo die kegeeran. Okey, gw akui hal yang paling membuat kagum ama dia adalah dia bukan tipe cewek yang manja, yang menye2. Dia ga pernah ngambek ga jelas yang katanya sebagian orang cewek sering kek gitu. Dan pastinya dia adalah orang yang pas untuk diajak ngobrol, mo ngobrolin apa aja bisa nyambung. Gw adalah anak teknik yang lumayan seneng ngomongin politik (keknya temen2 gw emang banyak yang seneng ngomong politik) dan cewek gw ini nyambung banget diajakin ngomongin politik. Dia juga sangat nyambung kalau diajakin ngomong hal2 yang aktual, entah itu tentang hal2 yang perlu kita kritisi di masyarakat kita, atau hal2 sederhana yang sering menjadi kebiasaan masyarakat tapi gw ga sependapat.

Gw sebenernya ga tau kalo ce gw itu cumlauder,mahasiswa berprestasi UGM atau dia lulus tercepat di UGM. Tapi setelah tau, gw seneng, karena kita memang memiliki pemikiran yang sama soal kuliah. Entah temen2  sependapat ama gw apa ga, yang jelas lama waktu kuliah itu menurut gw adalah bentuk rasa tanggung jawab kita terhadapa orang tua. Semakin cepat kita lulus, semakin cepat pula kita mandiri, dan orang tua kita pun semakin senang (somehow, bisa jadi hanya berlaku buat gw aja). Selain itu dia juga memiliki mimpi yang sama kek gw, keinginan untuk sekolah lagi, untuk berkontribusi lebih,dsb. Keinginan gw dan dia untuk membentuk keluarga yang punya “nilai” dan “culture” dan banyak hal lagi membuat kita memiliki “will” yang sama. Mohon doanya temen2 semoga kita bisa melewati samudera kehidupan ini.

Itu beberapa hal yang membuat gw merasa cocok dengan dia, untuk hal lainnya yang gw tau setelah menikah, seperti selalu masakin gw,nyiapin bekel makan buat di kantor, bikinin gw teh anget di saat gw pulang kerja, nyuapin dan mijitin pas gw sakit, dan banyak hal lain merupakan bonus buat gw😀 . Untuk kekurangan, setiap orang pasti ada kekurangannya tapi gw yakin kalo lw melihat orang dari sisi positifnya, setiap kekurangannya hanyalah sebagai bumbu pelengkap. Setidaknya mengingatkan kita, bahwa kita juga banyak kekurangannya, dan begitulah berjalannya sebuah cinta, lw harus menerima satu paket lengkap, seperti halnya keping mata uang, tidak akan pernah bisa kita hanya mau menerima satu sisinya saja.

Okeeey, ini sharing pertama gw soal nikah. Semoga kita bisa melihat pendamping hidup kita tidak hanya masalah fisik, tapi melihat dari masalah2 lain yang jauh lebih krusial, visi misi hidup, pola pikir, agama. Come on guys, gw  ga munafik kalo gw pasti ngeliat fisik juga, cewek gw pastinya cantik. Tapi setidaknya gw ga muluk2 nyari orang yang cantiknya kek model2, kayak bintang pelem, dsb. Karena gw yakin secantik apapun pendamping gw, kalo diajak ngobrol ga nyambung, dan memiliki visi misi yang berbeda,,membuat hati ga mood, pasti kecantikannya tidak bisa kita nikmati. Tapi kalo dapat semuanya jauh lebih bagus kan?? Kayak istilah “Ahh,,bodoo dah,,gw mah kaya gpp asalkan masuk surga”

March 18, 2011 at 4:01 am 6 comments

Bangsa ini butuh apresiasi

Malam ini gw berpikir banyak hal,termasuk bagaimana menjadi seseorang yang bisa berkontribusi lebih terhadap lingkungan,,entah kenapa gw merasa kurang dengan semua hal yang gw lakukan. Gw tau sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, gw yakin semua orang juga tau itu termasuk gw. Tapi entah kenapa gw merasa belum bisa mengaplikasikan itu semua dalam kehidupan gw. Entah karena memang gw yang ga mau berusaha,dan menjadi orang yg egois, atau memang karena keadaan sekitar yang memang membuat gw cuma berpikir terhadap hal2 yang bersifat diri sendiri. Yah diakui atau tidak terkadang target2 yang kita ingin capai untuk masa depan lebih banyak adalah pencapain diri sendiri,,dulu pas SMA pengen tembus SPMB lah,,NEM bagus lah. Pas kuliah pengen cepet lulus,pengen kerja gaji lumayan, yaaah ternyata memang target pencapaian gw sangat egois sekali.

Gw bener2 tersadar,harus memasukkan paramater kontribusi untuk org lain dalam rencana masa depan gw, gimana kita bisa bermanfaat bagi orang dengan kadar yang besar jika dalam perencanaan saja kita tidak memasukkan variabel2 dan parameter2 kontribusi. Semoga gw bisa merencanakan masa depan dengan parameter2 kontribusi sebagai komponen utama. Ayooo semangaaaaat.

Gw hari ini memang sedikit terkesan melihat salah satu blog artis Indonesia yang membuat gw merasa kecil dan tidak berarti. Dia berusaha menumbuhkan semangat sense of belonging terhadap bangsa ini melalui lagu2nya,melalui komunitas2nya,that’s so nice. Pernahkah kita terpikir untuk membanggakan bangsa ini. Pernah kita berpikir untuk tidak hanya mengolok2 bangsa ini,tidak hanya mengkritik tanpa tindakan apapun. Gw merasa terusik dengan guyonan2 yang mengolok2 bangsa sendiri. Terkadang tanpa tersadar otak kita memang berpikir untuk memaklumi dan cenderung menyalahkan tanpa ada sebuah solusi. Bagaimana kita menertawakan bangsa sendiri,,juara korupsi no. 4 (anggap seperti itu) kita dengan “bangga” ngatain kenapa ga ranking 1 ya?? Ketika tingkat kecelakan kerja ataupun kecelakaan transportasi cukup tinggi,kita bilangnya “maklumlah,indonesia standar safetynya rendah”. Kenapa kita seolah2 menjadi orang skeptis terhadap bangsa sendiri,kenapa hal semacam ini menjadi olok2an. Ini sebenernya menjawab kenapa propaganda cintai produk Indonesia tidak pernah berhasil, karena kita sendiri sudah skeptis dengan bangsa ini. Mungkin sebagian yang membaca tulisan ini bakal komen,,”kita??lo aja kali!!”.

Tapi jujur, hati gw terusik dengan semua ini,terusik dengan hobi kita mengolok2 bangsa kita sendiri,,mengolok2 tanpa solusi. Bahkan untuk saat sekarang ketika atlit2 kita berjuang di Asian Games apakah kita masi menganggap wajar dengan perolehan medali yang kita dapat?? Apakah kita masi berpikir,”maklumlah Indonesia”, segitu skeptiskah kita terhadap bangsa ini.

Semoga bangsa ini semakin dewasa, tidak menjadikan kelemahan sebagai kebanggaan, tidak menjadikan keburukan menjadi kebiasaan, tidak menjadikan kekurangan sebagai bahan olok2an, semoga bangsa ini bisa lebih kritis dan tanggap terhadap situasi, bisa menjadikan kekurangan sebagai motivasi, bisa menjadikan keburukan sebagai bara reformasi. Dan selalu berpikir untuk mencari solusi, tidak hanya sibuk tertawa dan mencaci diri sendiri.

November 18, 2010 at 6:14 pm 4 comments

Nikmatnya Sebuah Perjalanan #backpacking 2

Walaupun tulisan ini acakadut ga karuan, tapi saya berusaha berbagi pengalaman tentang nilai2 yang bisa kita dapatkan di saat backpacking:

# Hidup adalah Proses

Backpack adalah jalan2 yang tidak hanya berorientasi terhadap tujuan, tapi juga proses. Walaupun yang kita tuju adalah pantai yang indah. Bukan berarti kita akan merasa kecewa melewati jalan yang berbukit dan berkelok2 untuk menuju ke pantai tersebut. Karena kita sadar bahwa tujuan kita adalan perjalanan itu, sedangkan pantai yang indah hanyalah bonus. Kenapa ini saya tekankan, karena tidak sedikit orang yang mengeluh, “pantainya siy bagus, tapi kesananya capek, jauh jalannya belok-belok”.Hal semacam ini erat kaitannya dengan hidup kita, entah benar  apa ga, saya merasa itulah refleksi hidup ini yang sebenernya adalah proses. Hidup adalah berproses, kesuksesan bukanlah pencapaian tapi juga proses hidup. Jika kita bisa menikmati proses dalam hidup, kita akan merasa lebih hidup. Kita tidak akan menunggu nanti untuk bahagia, kita tidak akan menunda besok untuk berbagi, kita tidak akan menunggu nanti untuk bersyukur, dan kita tidak akan menunggu kaya dan memiliki posisi untuk berkontribusi . Karena setiap hal bisa kita lakukan sekarang, karena kita selalu menikmati sebuah proses, tidak harus menunggu hasil. Tidak harus, bukan berarti tidak melihat hasil.

# Memperluas Cakrawala Memperbanyak Paradigma

Dalam sebuah perjalanan kita pasti dituntut bersabar dan menerima keadaan yang mungkin tidak nyaman buat kita. Oleh karena itu mungkin itulah alasan kenapa ada keringanan untuk tidak berpuasa bagi seorang musafir, terlepas faktor fisik ternyata faktor psikis juga sangat berpengaruh. Dalam perjalanan mungkin banyak hal bisa terjadi, entah karena bis yang ditunggu tidak kunjung datang, kereta yang telat, atau mungkin ketidaknyamanan karena ulah penumpang lain, hal ini sering kali terjadi. Tapi disanalah seni dari perjalanan itu, bagaimana hal semacam itu tidak lagi menjadi kendala buat kita untuk menikmati perjalanan. Kita dituntut untuk melihat semua hal dari berbagai sudut pandang. Kereta adalah salah satu moda transportasi favorite saya, entah kenapa perasaan nyaman lebih terasa kalo naek kereta. Naek pesawat, walaupun mungkin lebih cepat tapi selama hampir satu jam setengah (anggaplah Jakarta-surabaya), perasaan was2 dan tidak tenang, bahkan keringat dingin terus mengucur, mungkin ini karena pengalaman yang tidak mengenakkan yang pernah saya alami.  Tapi pengalaman yang paling berkesan saya adalah ketika naek kereta ekonomi matarmaja dari Jakarta ke Malang untuk menikmati keindahan pulau sempu dan lagunanya di pesisir selatan kabupaten Malang. Perjalanan ge tempuh selama 20 jam, kereta berangkat dari stasiun senen sekitar pukul 13.00 dan nyampe di kota Malang pukul 09.00 keesokan harinya. Kenapa saya mencoba mengaitkan cerita perjalanan saya ini dengan memperluas cakrawala dan memperbanyak paradigma? Karena dalam perjalanan naek kereta seperti inilah kita benar2 dituntut untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya sudut pandang  saya, tapi juga sudut pandang orang kedua, orang ketiga, ataupun orang keempat. Salah satu contoh yang paling terlihat adalah, bagaimana kita harus bisa memaklumi para penjual keliling di kereta yang selalu hilir mudik menerobos kerumunan penumpang yang mungkin untuk berdiam saja sulit apalagi harus bergerak. Ketidaknyamanan ini mungkin akan hilang setelah kita melihat dari sudut pandang para pedagang keliling itu, mungkin bisa jadi itulah satu2nya cara dia mendapatkan penghasilan, atau kalo kita mencoba melihat dari sudut pandang penumpang yang mungkin pada saat itu membutuhkan barang2 yang dijual oleh pedagang keliling itu. Di situasi kereta dengan penumpang yang berjubel, bahkan untuk bergerak saja sangat susah, maka ketika kehausan dan ada penjual keliling yang menyodorkan minuman sungguh suatu berkah tersendiri. Demikian juga mungkin kita akan terheran-heran melihat toilet di kereta api ekonomi yang mungkin di saat2 tertentu akan berubah menjadi tempat yang nyaman bagi satu-dua orang penumpang. Yah, begitulah sangat disayangkan sebenarnya karena memang sebagian orang di sekitar kita ternyata masi memikirkan diri sendiri. Tapi mungkin jika kita melihat dari sudut penumpang yang menikmati toilet sebagai tempat untuk bersandar, kita harus menyadari, mungkin kerinduan mereka terhadap sanak keluarganya telah membuat mereka harus bertahan disana, bau pesing dan aroma khas toilet tentu saja bukan halangan bagi mereka untuk berkumpul bersama keluarga.  Yah sekali lagi kita memang harus melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Tidak bisa menyalahkan dan menjustifikasi orang hanya dalam satu sisi saja.

Dari perjalanan yang seperti inilah kita bisa mengambil sebuah pelajaran, dalam hidup ini sudah seharusnya kita melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang, selain akan memperluas cara pandang kita terhadap sesuatu, hal ini juga membuat kita lebih mudah memahami segala hal, termasuk memahami orang lain. Melihat segala hal dari berbagai sudut pandang juga memudahkan kita untuk berpikiran positive terhadap segala hal, karena disanalah semua penyakit hati bermula. Dengan pikiran yang selalu positive terhadap segala hal membuat kita semakin bijaksana dalam menilai seseorang dan lebih mudah bagi kita untuk mendapatkan hikmah dari setiap hal. Yah ini memang tidak mudah, saya pun masih tahap mencoba untuk terus meningkatkan diri. Ok, mari jadikan setiap perjalanan kita selalu berkesan, tidak  hanya capek badan dan hati saja yang kita dapatkan

*bersambung

November 16, 2010 at 9:38 am Leave a comment

Nikmatnya Sebuah Perjalanan #backpacking1

Backpacking, ini mungkin salah satu hobi saya dari sekian banyak hobi yang saya jalanin. Yah, backpack atau jalan2 murah bagi sebagian orang memang jalan2 kek gini agak ga masuk akal alias,,nyusahin diri sendiri. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya merasa ketagihan untuk melakukannya lagi, karena memang sudah cukup lama saya ga backpack lagi. Mungkin bisa jadi karena prioritas financial saya yang ga lagi kearah jalan-jalan atau mungkin juga karena semakin susahnya nyari temen untuk diajak jalan2 kek gini. Yah, seperti kita tahu kalo jalan2 yang agak repot dikit emang harus dengan temen2 yang benar2 sudah mengerti kita, yang bisa diajak susah, yang bisa diajak saling berbagi  tentang banyak hal. Dan benar memang kata Rosulullah bahwa kita tidak bisa melihat watak seseorang sepenuhnya sebelum kita menginap bersamanya dalam waktu lebih dari 3 hari, atau melakukan perjalanan jauh bersama. Karena memang watak asli kita akan terlihat disana, rasa egoisme, menang sendiri, ga  mau berbagi, ngambek, dsb. Yah itulah kenapa mungkin susah buat saya untuk  backpack lagi, karena alasan financial dan teman yang mungkin belum ada yang bisa diajak untuk jalan-jalan lagi, dan alas an ketiga adalah waktu, kalopun ada uang, temen juga ada, eh ternyata waktu sering tidak bersahabat. Yah sudahlah, dan sampe sekarng pun (yang hampir satu tahun) tidak ada jalan2 lagi yang bener2 bisa masuk di hati.

Bagi sebagian orang menganggap orang yang hobi backpack adalah orang yang kesepian, bisa jadi benar,bisa jadi juga salah.Semua tergantung dari sudut pandang kita dari melihat sesuatu. Kita bisa menganggap orang yang melakukan backpack adalah orang yang kesepian karena dia sering jalan-jalan sendiri, dan menikmati kesendiriannya dalam perjalanan itu. Tapi jika kita melihat lebih dalam, disanalah sebenarnya kemampuan interaksi social kita diuji. Bagaimana kita dituntut untuk membaur dengan lingkungan baru, mencoba berkenalan dengan  orang2 lokal demi sekedar mencari informasi, bertanya tempat2 yang asik di sekitar sana, mencari penginapan yang murah, mencari tempat makan yang murah dan enak, mencari  tahu transportasi yang bisa kita jangkau, dan banyak hal lain yang memang dituntut keberanian kita untuk berinteraksi dengan lingkungan baru.

Saya juga ga menyalahkan orang yang berpendapat backpacker itu seorang yang kesepian karena mungkin bisa jadi di berbagai penjuru dunia ini banyak sekali “lone ranger backpacker” tapi saya ga mau langsung menjustifikasi  mereka adalah orang2 yang kesepian. Tapi saya menyadari bahwa kecenderungan kita jika bepergian bersama teman2, bepergian dengan teman2 kita dengan jumlah yang cukup banyak (lebih dari 5) membuat kita semakin buta akan keadaan sekitar, kita terlalu enjoy terhadap komunitas sendiri sehingga kurang tanggap terhadap lingkungan social yang baru. Bahkan karena begitu asiknya kita bersama komunitas kita membuat kita lupa akan keberadaan orang2 lain di sekitar kita yang bisa jadi menyebabkan kita sudah menganggu mereka. Jika udah seperti ini, maka saya merasa nilai dari sebuah backpack itu akan hilang.

Mengenai pengalaman mengenai backpack  dan nilai2 yang saya dapatkan, akan saya posting di postingan selanjutnya.

November 16, 2010 at 7:10 am Leave a comment

Passion Jangan tinggalkan aku??

Hampir semua buku motivasi yang saya baca menuntut kita untuk segera menemukan passion kita dalam melakukan sesuatu . Emang apaan siy passion. Kalo saya menganggap passion itu adalah sesuatu yang membuat kita bertindak atau melakukan sesuatu tanpa ada suatu paksaan, dan kita melakukannya dengan hati yang senang.  Nah itu siy versi gampangnya, saya juga belum ngecek ke KBBI atau kamus lainnya, tapi bisa saya anggap seperti itulah.

Passion memang membuat kita akan menikmati setiap hal yang kita lakukan, hal ini pula mungkin yang menyebabkan kita akan mampu mengeluarkan segala kemampuan dan potensi yang ada dalam diri kita. Mungkin tidak gampang bisa menemukan passion kita, bahkan saya sendiri pun sedang mencari lagi passion saya yang dulu sepertinya pernah akrab dengan saya tapi entah kenapa sekarang pergi begitu saja. Entah salah siapa, saya siy merasa tidak memutus hubungan dengan si passion ini, tapi kenapa dia tiba2 pergi meninggalkan saya, tapi mungkin bisa jadi aparatur hati sikap dan tubuh saya membuat passion enggan berteman dengan saya. Bisa jadi dengan menulis ini pula saya mencoba menarik perhatian si passion agar mau lagi berteman dengan saya, menemani hari-hari yang indah di ibukota Indonesia tercinta ini.

Hai passion,, sudahlah jangan kau pundung lagi ama saya ini, marilah kita berteman lagi. Saya akan buatkan satu tempat special di hati saya, yang sekelas presiden suite Hotel bintang 7. Saya sadari passion kamu memang meninggalkan saya karena kesalahan saya sendiri, saya kurang antusias, saya kurang semangat, saya kurang optimis, saya kurang bersyukur, saya kurang berusaha dengan keras, saya kurang bertanya, saya kurang berjuang, saya banyak kurangnya lah pokoknya. Saya sudah sadar hai passion, saya akan berusaha sekuat tenaga agar kamu kembali berteman lagi dengan saya.

Jujur Passion, saya ingin berteman dengan kamu bukan tanpa pamrih, mungkin orang mengatakan persahabatan itu tanpa pamrih, tapi tidak dengan persahabatan denganmu passion. Saya bersahabat dengan kamu karena memang saya punya pamrih. Karena setiap saya bertanya pada orang2, bertanya pada buku2 tentang bagaimana menjadi orang yang sukses selalu di jawab “DO WITH PASSION”. Nah jelas banget kan kalo pengen sukes ternyata harus bareng kamu, ga ada yang bilang “do with your wife”, “do with your girlfriend” atau “do with yourself”. Semua nyuruh melakukan bareng kamu. Okelah passion semoga beberapa patah kata ini bisa membuatmu kembali padaku

May 18, 2010 at 9:50 am 4 comments

Older Posts


Categories

  • Blogroll

  • Feeds