Tips “Menikmati” Ibukota

June 20, 2011 at 6:35 am 4 comments

Yaaaah benar,saya memang datang ke Jakarta di usia saya yang ke 23. Setelah hidup di Tuban Jatim dari lahir sampai SMP,,kemudian melanjutkan SMA di Jogja, dan lanjut kuliah di Bandung, akhirnya jodoh dan rejeki saya jatuh di Ibukota.

Jakarta demikian juga dengan kota lainnya,memiliki sisi positif dan negatif. Tulisan ini saya buat sebagai salah satu tips bagi teman2 yang “ndeso” seperti saya, orang yang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan Jakarta. Banyak orang bilang Jakarta bukan lagi tempat yang nyaman, jalanan macet, polusi udara, kendaran bermotor yang rusuh, tidak aman dsb. So far, saya bukan tidak setuju dengan realitas yang ada, tapi saya hanya tidak ingin ketika menikmati hidup ini saya lebih sering mengutuk keadaan. Sejauh ini saya tidak pernah mengeluh serius dengan keadaan, tapi bukan berarti saya tidak kritis dengan banyak hal di Jakarta. Ketertiban warganya dalam berkendara, dalam hal kebersihan, dalam hal memikirkan kepentingan orang lain dan kepentingan umum, public transport, dan banyak hal lagi.

Ini beberapa tips saya dalam menikmati Ibukota:

1. Kemacetan Jalan

Mungkin kita terhanyut dalam sebuah rutinitas kerja dan keseharian, kita sering melewati kemacetan2 jalanan yang membuat stres pikiran kita. Saran saya tidak selamanya jalanan jakarta itu macet, cobalah ke daerah thamrin,sudirman,kuningan di saat wiken di pagi hari. Maka akan terlihat jalanan yang lengang dan sepi, di saat seperti itu saya selalu merasa, “Jakarta bisa sepi juga ya”

2. Mencari oase

Mencari oase yang saya maksud adalah sebuah tempat yang rindang dengan beberapa pohon yang besar yang asik buat nongkrong hanya sekedar membaca koran atau menikmati udara sekitar. Saya sarankan cobalah maen ke taman suropati, ketika mengenal taman ini saya langsung merasa, masi ada tempat seperti ini di Jakarta😀, pohon2 besar, burung merpati, track jogging, komunitas biola, anak2 kecil yang berlari2an, mantaaap,so relaxing

3. Nikmati Fasilitasnya

Jakarta adalah kota yang memiliki fasilitas yang paling lengkap, atm bertebaran dimana2, taksi banyak, tempat makan yang bervariatif, tempat perbelanjaan yang lebih dari cukup, tempat nongkrong yang bikin menarik, bahkan mo mengisi rohani banyak masjid yang mengadakan pengajian rutin. So mari kita nikmati.

4. Manfaatkan Arus Informasinya

Mo ikutan seminar apa aja ada di jakarta, mo ikutan trening apa aja ada di jakarta. Mo nonton konser musik dari yang sekelas dahsyat, inbox, R n B luar negeri, Java Jazz, semuanya ada. Mo datang di pameran pendidikan luar negeri? pameran mobil? Motor? Komputer? ada di Jakarta. So, mari manfaatkan arus informasinya. Tapi saya bukan orang yang suka datang di tempat2 keramaian, kecuali memang ada keperluan yang mendesak.

5. Peluang kerja yang lebih baik

Banyak sekali peluang kerja di jakarta jika kita memang kreatif dan memiliki value tersendiri, banyak kesempatan dari sebagai karyawan sampai wiraswasta.

6. Peningkatan Kualitas Diri

Jakarta adalah kota yang memiliki keragaman dan ketimpangan yang sangat besar, di satu sisi orag terkaya ada disini dan bisa jadi juga orang termiskin ada juga disini. Sekali lagi itulah yang membuat jakarta beragam. Di satu sisi kita tidak bisa tinggal diam setuju terhadap kemiskinan, baik itu kemiskinan harta maupun kemiskinan moral, martabat dan tanggung jawab. Mengapa saya berkata demikian, karena bisa jadi kemiskinan tidak hanya dilihat dari harta saja, bisa juga dari sebuah attitude. Di jakarta saya menemukan sebuah formula, dimana disinilah kita menjadi sangat bersyukur sekaligus terpacu untuk menjadi lebih dan lebih lagi. Kita dituntut untuk bisa memikirkan orang lain, sekaligus dipaksa untuk masa bodoh. Mungkin “seimbang” adalah kata yang tepat, dan seimbang bukan lah hal yang mudah, kita dituntut untuk terus melakukan evaluasi diri, sejauh apa tingkat keseimbangan kita, tingkat keseimbangan dalam bersyukur dan berjuang untuk lebih. Mungkin bisa jadi dimanapun kita dituntut untuk seperti ini, tapi percayalah, di Jakarta saya merasa dituntut untuk lebih mengevaluasi diri.

Dimanapun kita berada, di Bumi Allah ini, marilah kita tetap menjadi seorang khalifah, bermental seorang khalifah, yang mengayomi dan menjaga bumi dan seisinya.Amiin

 

Jakarta 20 Juni 2011

(diambil dari google)

-anas-

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Just Married 1 Negara Tetangga

4 Comments Add your own

  • 1. Rina  |  July 3, 2011 at 9:10 am

    hampir 7 taun tinggal di jakarta dan pinggirannya😀.
    sejujurnya, saya baru mulai menikmati jakarta setelah hampir 3 taun berada di kota ini.

    ternyata kuliah di pinggiran jakarta, kerja rezekinya juga di kota ini. walaupun awalnya terpaksa, lama2 enjoy juga disini.
    dalam banyak hal, jakarta memang memiliki keunggulan, terutama perkembangan informasi yang lebih cepat dibandingkan dg kota lainnya😀

    enjoy Jakarta anas🙂

    Reply
    • 2. anasyusuf  |  July 12, 2011 at 6:59 am

      hooo iyaa to rin,,mungkin dulu kurang melihat secara komprehensif dan sekarang udah bisa melihat celah2 yang bisa dinikmari😀

      Reply
  • 3. wiwien apriliani  |  July 12, 2011 at 10:44 am

    My favourite things in Jakarta:
    1. Car free day
    2. Taman Suropati
    3. Easily meet friends and “people”
    4. Bicycle (though dont have one) haha
    5. My work🙂

    Reply
    • 4. anasyusuf  |  July 13, 2011 at 4:32 am

      ayooooooo sepedaan… :p

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

June 2011
M T W T F S S
« Mar   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: